Avoiding Mediocrity : Do u Dare to be Different ??

April 26th, 2008 by doublet-bdg

I don’t know about you, but one of the things I’m afraid most in life
is mediocrity. For me, life is too precious to be lived in mediocrity.
Life is a golden opportunity, and we should use it as good as we can. Living in mediocrity means we do not use the opportunity as good as we should.

Unfortunately, many people are trapped in mediocrity. I believe one of the main reasons is they do not dare to be different. You need to be different if you want to be above the average. The question is:

Do you dare to be different?

This question might not be easy to answer, but how you answer it will make the difference between excellence and mediocrity.

Here are some more specific questions to help you check yourself and take actions:

1. Do you have a dream?

This is the first question you should ask yourself. I believe one of the main reasons people just follow the herd is they don’t have a dream. If there is nothing to pursue then why bother being different?

But a dream is what sets you above the average. Not having a dream means going to mediocrity on autopilot.

If your answer for this first question is “no” then start searching.
I’m sure you have a dream deep inside of you. It might be something
from your childhood. Maybe for long time you have been too busy to let
the little voice of your dream be heard. This is the right time to heed
that little voice.

If you have found your dream, the next question is whether or not
you have the courage to follow it. Questions two through five will deal
with that.

2. Are you doing what you want or what you should?

There are often implicit “rules” about what someone should do in a
particular situation. For example, when there are two job
opportunities, the “rule” says that you should take the one with higher pay.

But is that what you want? I mean, does it help you achieve your dream?
Maybe the job with less pay will help you achieve your dream while the
one with higher pay doesn’t. Do you have the courage to be different
and follow your dream?

3. Do you worry more about being loved than being what you love?

Another reason why we don’t dare to be different is because we are trying to meet other people’s expectations. We often worry more about what other people say than about what matters to us. But living someone else’s life is a bad way to live your life. Why should you lose opportunity just because of what other people say?

4. Do you choose what is safe rather than what is right?

Maybe you are not trying to meet other people’s expectation. Maybe
you just don’t want to take risks and therefore you choose to play
safe. But this is exactly what many old people regret. When
they were asked in a study about what they regretted most and what they
would do differently, most of them answered: “I wish I had risked
more.” Don’t let the same regret happen to you.

5. If you had only six months left to live, would you do what you are doing now?

You can only answer “yes” to this question if what you are doing
matters to you. Doing what matters to you is a sure way to excellence
since you will do it with all your heart. But you need the courage to
be different and follow your heart. Do you have it? I hope your answer
is yes. Life is too precious to be lived in mediocrity.

http://www.lifehack.org/articles/productivity/avoiding-mediocrity-do-you-dare-to-be-different.html

A L P H A B E T I C A L F O R S U C C E S S

July 27th, 2005 by doublet-bdg

Menurut pakarnya, manusia sukses tidak cuma dari IQ saja. Peran EQ
(Emotional Intelligence) pada kesuksesan bahkan melebihi porsi IQ.
Seorang
pakar EQ bernama Patricia Patton memberikan tips bagaimana kita
menemukan
dan memupuk harga diri, yang disebutnya alfabet keberhasilan pribadi.

  A : ACCEPT

Terimalah diri anda sebagaimana adanya.

  B : BELIEVE

Percayalah terhadap kemampuan anda untuk meraih apa yang anda  inginkan
dalam hidup

  C : CARE

Pedulilah pada kemampuan anda meraih apa yang anda inginkan dalam hidup

  D : DIRECT

Arahkan pikiran pada hal-hal positif yang meningkatkan kepercayaan diri

  E : EARN

Terimalah penghargaan yang diberi orang lain dengan tetap berusaha
menjadi
yang terbaik

  F : FACE

Hadapi masalah dengan benar dan yakin

  G : GO

Berangkatlah dari kebenaran

  H : HOMEWORK

Pekerjaan rumah adalah langkah penting untuk pengumpulan informasi

  I : IGNORE

Abaikan celaan orang yang menghalangi jalan anda mencapai tujuan

  J : JEALOUSLY

Rasa iri dapat membuat anda tidak menghargai kelebihan anda sendiri

  K : KEEP

Terus berusaha walaupun beberapa kali gagal

  L : LEARN

Belajar dari kesalahan dan berusaha untuk tidak mengulanginya

  M : MIND

Perhatikan urusan sendiri dan tidak menyebar gosip tentang orang lain

  N : NEVER

Jangan terlibat skandal seks, obat terlarang, dan alkohol

  O : OBSERVE

Amatilah segala hal di sekeliling anda. Perhatikan, dengarkan, dan
belajar
dari orang lain

  P : PATIENCE

Sabar adalah kekuatan tak ternilai yang membuat anda terus berusaha

  Q : QUESTION

Pertanyaan perlu untuk mencari jawaban yang benar dan menambah ilmu

  R : RESPECT

Hargai diri sendiri dan juga orang lain

  S : SELF CONFIDENCE, SELF ESTEEM, SELF RESPECT

Percaya diri, harga diri, citra diri, penghormatan diri membebaskan
kita
dari saat-saat tegang

  T : TAKE

Bertanggung jawab pada setiap tindakan anda

  U : UNDERSTAND

Pahami bahwa hidup itu naik turun, namun tak ada yang dapat

mengalahkan anda

  V : VALUE

Nilai diri sendiri dan orang lain, berusahalah melakukan yang terbaik

  W : WORK

Bekerja dengan giat, jangan lupa berdo’a

  X : X’TRA

Usaha lebih keras membawa keberhasilan

  Y : YOU

Anda dapat membuat suatu yang berbeda

  Z : ZERO

Usaha nol membawa hasil nol pula

Poetry

July 27th, 2005 by doublet-bdg

             

               

               

       

               
  AKU TAHU HARUS KE MANA (RED-PUISI)

Bagiku hidup cuma sebagian dari waktu

dan tinggal di dalamnya berarti anugerah.

Jika hidup terasa susah

Hari kelihatan gelap

Jalan kelihatan samar

dan semua pintu terkunci

serta tak ada jendela yang tidak tinggi.

Aku tahu harus kemana!!

KepadaMu Bapa yang selalu berada dekat

kupinta sebuah asa untuk memiliki

lebih dari seorang sahabat

bahkan melebihi seorang pembela

hingga jika aku sendirian

aku tidak merasa sendirian!

Dan bila waktu membuatku berhenti

tak ada lagi suara hati

atau langkah kaki

dan kehidupan berhenti seperti kehendak usia

aku ingin kau bawa diriku

ke balik mega biru yang menawarkan jingga

supaya aku tahu …………aku begitu berharga di mataMu.

(*dibuat untuk mengenang peristiwa Mei kelabu tahun 1997)

sehingga manusia
ber­tobat dan percaya kepada Yesus Kristus. Namun pekerjaan Roh Kudus
ini tidak berakhir di sana. Se­telah menginsaf­kan manusia akan dosa,
Roh Kudus juga mem­perbaha­rui (Yoh 3:5; 2 Kor 5:17), mengudus­kan (Tes 5:23) dan memperleng­kapi orang-orang percaya untuk pelayan­an (Kel 31:2-5; 1 Kor 12:11; Efe 4:11-12).
Ketika seseorang percaya, maka ia dibaptis, dime­teraikan, dan didiami
oleh Roh Kudus secara simultan untuk memasti­kan ke­selamatannya dan
memampukan dia untuk melayani Tuhan.[1]
[1]


Pekerjaan Roh Kudus

July 27th, 2005 by doublet-bdg

             

             

               

               

             

               
 

Roh Kudus Dalam Kehidupan Dan Pelayanan Orang-orang Percaya

Hubungan
Roh Kudus dengan orang-orang Kristen sangat penting. Telah kita lihat
bahwa salah satu pekerjaan Roh Kudus dalam ke­hidupan manusia adalah
menginsafkannya akan dosa, ke­benaran, dan penghakiman sehingga manusia
ber­tobat dan percaya kepada Yesus Kristus. Namun pekerjaan Roh Kudus
ini tidak berakhir di sana. Se­telah menginsaf­kan manusia akan dosa,
Roh Kudus juga mem­perbaha­rui (Yoh 3:5; 2 Kor 5:17), mengudus­kan (Tes 5:23) dan memperleng­kapi orang-orang percaya untuk pelayan­an (Kel 31:2-5; 1 Kor 12:11; Efe 4:11-12).
Ketika seseorang percaya, maka ia dibaptis, dime­teraikan, dan didiami
oleh Roh Kudus secara simultan untuk memasti­kan ke­selamatannya dan
memampukan dia untuk melayani Tuhan.[1]
[1]


KELEBIHAN GEREJA RUMAH DIBANDINGKAN DENGAN GEREJA TRADISIONAL

July 27th, 2005 by doublet-bdg

Saya menemukan paling tidak ada dua belas kelebihan pergerakan
gereja rumah dengan dasar sel bila dibanding dengan gereja
tradisional kongregasional.

1. Multiplikasi dan Pemuridan
—————————–
Gereja rumah adalah suatu acuan yang mengutamakan multiplikasi dan
pemuridan dengan potensi pertumbuhan yang besar, karena “sel”
sendiri merupakan bagian yang dapat memultiplikasikan dirinya
sendiri. Pembinaan, multiplikasi, dan pemuridan adalah inti dari
konsep ini. Sidang jemaat sama sekali bukanlah sebuah acuan atau
model pemuridan, dan secara struktural cenderung mencegah terjadinya
pembinaan dan pemuridan. Pemuridan tidak pernah hanya berarti satu-
sama-satu: sesungguhnya pemuridan merupakan tugas komunitas. Selain
karena Roh Kudus, pengaruh dari teman sebaya merupakan guru yang
paling handal di muka bumi, dan hal ini tidak dapat dipungkiri oleh
orangtua yang memiliki anak remaja. Gereja rumah juga menerapkan
cara ini. Orang-orang yang telah ditebus saling bertanggung jawab
satu sama lain, dengan cara yang sehat dan penuh kasih, saling
menimba pelajaran tentang nilai-nilai kerajaan baru, menjadi teman
dan keluarga bagi teman yang lain, dan saling menolong dalam
kehidupan baru mereka. Tidak ada seorang pun yang dibiarkan bergumul
sendirian dan menyembunyikan masalah-masalahnya, dan karena hal
itulah, setiap orang cepat menjadi dewasa.

2. Struktur yang Tahan Aniaya
—————————–
Melalui cara hidup mereka yang sederhana dan fleksibel, juga roh
tahan aniaya yang mereka miliki, gereja-gereja rumah dapat
berkembang sampai pada tahap menjadi struktur yang tahan terhadap
aniaya, atau setidaknya melawan aniaya sebagai sebagai kebalikan
dari jenis tradisional yang sangat mudah terlihat dan tidak bisa
dipindah-pindahkan dari “gereja dengan salib di puncak menara”.

3. Bebas dari Penghalang-penghalang Pertumbuhan Gereja
——————————————————
Begitu ada perhatian penuh untuk mencegah beralihnya gereja rumah
dari suatu organisme menjadi organisasi, gereja rumah dapat
bermultiplikasi secara mitosis, suatu proses reproduksi sel, dan
pertumbuhan pergerakan benar-benar akan terbebas dari penghalang-
penghalang pertumbuhan gereja.

4. Semakin Banyak yang Terlibat, semakin Efisien
————————————————
Gereja kongregasional seringkali bertumpu pada suatu program.
Sebagian besar program itu diatur oleh anggota jemaat. Hal ini telah
terbukti bahwa hal tersebut tidak efisien dan sumber daya manusianya
seringkali tidak cukup, biasanya hanya melibatkan 20% dari jumlah
anggota jemaat ada, yang sudah kelelahan mengerjakan pekerjaan
pelayanan bagi anggota lain yang lebih pasif, yaitu sekitar 80%
jemaat yang tersisa. Dalam gereja rumah, hampir setiap orang dengan
mudah dan secara alami akan terlibat, ranting yang mati dipangkas.
Karena mereka yang terlibat merasa dipuaskan, jadilah mereka orang-
orang yang bahagia, sehingga kualitas dan efisiensi gereja secara
keseluruhan terus bertumbuh.

5. Menghancurkan Dilema Pelayanan Pastoral
——————————————
Model gereja rumah akan menghancurkan dilema pelayanan pastoral,
suatu masalah yang umum dan menggerogoti gereja kongregasional;
seiring dengan pertambahan jumlah anggota, kualitas pelayanan
pastoral biasanya menurun. Hal tersebut disebabkan karena gembala
sidang tidak sanggup lagi memelihara domba-dombanya dengan baik.

6. Menyediakan Wadah untuk Transformasi dan Tanggung Jawab Kehidupan
——————————————————————–
Gereja rumah merupakan landasan ideal untuk mengubah nilai atau
pandangan hidup, memindahkan kehidupan yang pada akhirnya akan
mengubah gaya hidup. Analisis terhadap gereja-gereja di negara barat
menunjukkan bahwa gereja kongregasional hampir pasti tidak efektif
di dalam hal mengubah nilai-nilai dasar dan gaya hidup anggota
jemaat. Banyak orang Kristen yang mengikuti gaya hidup orang-orang
di sekitarnya, sehingga mereka tidak bisa lagi dibedakan dalam
masyarakat dan kehilangan ketajaman profetisnya. Gereja rumah
memberi tempat bagi transformasi nilai yang radikal, serta penataan
ulang kehidupan. Selain itu, juga menawarkan kehidupan yang
bertanggung jawab, yang sifatnya saling menguntungkan dan hidup, di
mana terdapat pengaruh teman sebaya yang telah ditebus, yang memang
ditolong untuk melakukan hal-hal yang baik, bukan yang buruk.

7. Rumah adalah Tempat Paling Efektif bagi Orang Kristen Baru
————————————————————-
Banyak hal mengenai mentalitas yang berfokus pada diri sendiri dalam
gereja kongregasional yang telah ditulis, di mana gereja dan
programnya menjadi pusat, dan hal-hal lain senantiasa berputar di
sekelilingnya. Struktur ini tidak menyukai orang-orang baru yang
datang “memporakporandakan aturan dan situasi”. Dengan kata lain,
gereja kongregasional adalah zona yang kurang ramah bagi orang-
orang Kristen baru, berdasarkan laporan tentang besarnya jumlah,
hampir mencapai 99% mereka yang meninggalkan apa yang dinamakan
“program follow-up kegiatan penginjilan”. Sebaliknya, gereja sel
atau gereja rumah adalah zona paling efektif, alami, dan ramah bagi
orang-orang baru untuk datang dan membina hubungan dalam komunitas
Kristen. Gereja rumah menyediakan orangtua (ayah dan ibu) rohani,
bukan guru-guru dan kertas. Gereja rumah juga membalikkan arah
pandang orang-orang Kristen, dan tidak membawa orang ke dalam
gereja, melainkan membawa gereja kepada masyarakat.

8. Menjadi Jalan keluar bagi Krisis Kepemimpinan
————————————————
Gereja rumah dipimpin oleh para penatua, dan bukan sekadar itu saja,
lebih tua daripada sebagian besar orang di dalam komunitas, tanpa
harus berlagak “dituakan”. Para penatua itu tidak harus menjadi
pembawa acara yang trampil dan guru yang pandai: ayah dan ibu rohani
sejati dan rendah hati dengan anak-anak yang taat merupakan modal
awal yang baik. Orang-orang seperti itu telah bertahun-tahun
menjalani kehidupan yang mendewasakan dan teruji oleh waktu,
bukannya seorang lulusan sekolah Alkitab yang mampu menjalankan
beberapa fungsi rohani. Kepemimpinan seperti ini dapat dengan mudah
ditemukan dan dikembangkan di mana saja tanpa harus menghabiskan
waktu bertahun-tahun untuk sekolah teologi. Dia bergantung pada
masukan dan dukungan kerasulan serta profetik, yang pertama kali dan
terus-menerus dia terima, pelayanan yang ada di dalam diri mereka
dapat berkembang dan akan berpadu serasi serta bertumbuh secara
eksponensial (bilangan berpangkat) bersamaan dengan pergerakan
gereja rumah yang bermultiplikasi. Apa yang kita kenal sebagai
Sekolah Minggu, Sekolah Alkitab, dan seminari kebanyakan bersifat
statis, suatu sistem pengembangan kepemimpinan yang pada dasarnya
bersifat tambahan, yang bila bertumbuh, paling-paling secara linier
dan tidak secara eksponensial. Lembaga-lembaga di atas merupakan
sistem yang bersifat informasional, bukan sistem yang
transformasional, seperti yang dengan tepat ditunjukkan oleh
Beckham. Oleh karena itu, mereka tidak dapat menandingi multiplikasi
pergerakan gereja rumah dengan kebutuhan akan para penatua yang juga
bertumbuh secara eksponensial.

9. Mengatasi Perbedaan antara Hamba Tuhan dan Orang Awam
——————————————————–
“Di dalam Perjanjian Baru, kita tidak akan menemukan ayat-ayat
petunjuk tentang seorang gembala sidang memimpin sebuah sidang
jemaat,” kata Barney Coombes. Gereja rumah sama sekali tidak
memerlukan seorang gembala sidang seperti yang kita pahami selama
ini, sebab para penatua berfungsi, bersama-sama dalam karunia-
karunia gereja rumah yang saling menyokong, untuk memelihara dan
memultiplikasikan kehidupan gereja. Kenyataan ini mematahkan kutuk
perbedaan hamba Tuhan dengan kaum awam, yang justru ditekankan oleh
gereja kongregasional.

10. Gereja Rumah lebih Alkitabiah
———————————
Kita tidak bisa mengabaikan pewahyuan alkitabiah lebih lama lagi
sambil berharap bisa berlalu begitu saja. Tradisi memang merupakan
guru yang tangguh, tetapi Firman Allah lebih dapat dipercaya dan
jauh lebih baik. Bahkan, pada era pasca modernisme dan relativitas,
Alkitab tetap mengajarkan hal-hal yang absolut, tidak terbantah.
Alkitab sama sekali tidak mengajarkan bahwa sebuah kumpulan kudus
yang berkumpul pada hari dan jam kudus di tempat yang kudus untuk
berpartisipasi dalam sebuah upacara kudus yang dipimpin oleh orang-
orang kudus berpakaian kudus demi gaji yang kudus adalah gambaran
dari sebuah gereja Perjanjian Baru. Pekerjaan Allah yang dilakukan
dengan cara Allah, sampai kini tetap mendatangkan berkat Allah.
Bahkan di zaman Musa, Allah menyuruhnya membangun “seperti contoh
yang telah Kutunjukkan”. Kita tidak akan rugi jika kita bergumul
dengan tradisi yang kita yakini demi mendapatkan kebenaran
alkitabiah, sebab bukan tradisi yang akan membebaskan kita,
melainkan Firman Allah.

11. Tidak bisa Disangkal, lebih Murah
————————————-
Gereja kongregasional dapat didefinisikan sebagai “rencana ditambah
gedung ditambah pendeta ditambah gaji ditambah program”. Definisi
dari gereja rumah adalah “orang ditambah rumah biasa ditambah iman
ditambah membagikan kehidupan”, yang jelas-jelas lebih murah. Jika
gereja-gereja kongregasional membutuhkan dana yang luar biasa untuk
berdiri, dan lebih banyak uang lagi untuk memelihara serta
menyebarluaskannya, maka sel dan gereja rumah sebenarnya justru
menghasilkan uang, karena mereka memproduksi lebih banyak daripada
yang dikonsumsi. Pada zaman yang banyak memperdengarkan jeritan yang
tidak pernah berhenti meminta lebih banyak uang bagi “pelayanan
gereja”, kita tidak boleh menganggap remeh pilihan-pilihan yang ada,
tetapi kita seharusnya menjadi hamba yang setia dari talenta
keuangan yang telah Allah berikan kepada kita.

12. Gereja Rumah Membangkitkan Gereja Kota
——————————————
Saya menemukan bahwa gereja sekarang mengatur diri mereka dalam
empat tingkatan:
a) Di rumah (dimana sebuah persekutuan yang hidup dapat berlangsung,
terlepas dari nama yang kita berikan);
b) Gereja kongregasional (gereja denominasi yang berorientasi pada
pertemuan ibadah atau kebaktian tradisional);
c) Kota atau wilayah;
d) Denominasi (jaringan kerja, konferensi, atau organisasi dari
gereja-gereja denominasi dalam suatu daerah).

Jika gereja tradisional, terutama berfokus pada tingkatan b dan d,
maka gereja sel berfokus pada tingkatan a dan b. Di sisi lain,
gereja rumah membuat kita terfokus pada tingkatan a dan c. Gereja
dalam Perjanjian Baru dinamakan sesuai dengan lokasi geografisnya,
bukan atas denominasi. Bersama gelombang pergerakan baru gereja
rumah ini, terbuka pula sebuah jalan pulang menuju bentuk “gereja
kota”, yang artinya gereja dari sebuah kota semua orang Kristen dari
kota atau wilayah itu, bertemu secara rutin atau pun tidak dalam
pertemuan raya sekota. Dalam pertemuan tersebut, orang-orang Kristen
yang paling berkarunia di kota itu dan para hamba Anak Domba yang
rendah hati melupakan semua gelar dan aliran politik, lalu, dalam
kedewasaan rohani yang baru, mempersembahkan nama, denominasi,
reputasi, dan kesuksesan pribadi demi kemajuan Kerajaan dengan satu
orang Raja, sang Anak Domba.

Bayangkanlah kegemparan yang terjadi saat orang banyak ini
berkumpul, mereka datang dari seluruh penjuru kota, lalu pemimpinnya
secara tetap memberikan visi-visi profetik, mengajarkan dasar-dasar
kerasulan, berdiri dalam satu kesatuan, saling memberkati, dan
berbicara kepada dunia dengan satu suara. Apa yang telah iblis
upayakan dengan segala cara agar tidak terjadi akan kembali menjadi
kenyataan: “jemaat Roma”, “jemaat Efesus”, “jemaat Korintus”,
“jemaat Yerusalem”, Wina, Singapura, Baghdad, Kartoum, atau
Montevideo akan terjalin kembali satu dengan yang lain, akan saling
berkait, membentuk sebuah identitas rohani dan pergerakan bersama
dalam satu Tuhan dan Tuan, dan juga berbicara dengan satu suara yang
penuh kuasa kepada bangsa dan kotanya.

Apa yang terjadi pada tingkatan gereja rumah yang kecil akan
tertumpah pada pertemuan yang lebih besar pada skala kota, dimana
gereja akan “unggul dalam hal kecil yang kemudian unggul di dalam
hal yang besar”. Kegembiraan dan sukacita orang-orang Kristen pada
tingkat rumah akan berkembang dan menggambarkan kegembiraan seluruh
kota. Sehingga tidak seorang pun yang tidak menyadarinya, dan orang
akan mengulangi pernyataan yang pertama kali diucapkan di Yerusalem:
“Kamu telah memenuhi kota ini dengan pengajaranmu!” Jadi, ini bukan
kegairahan yang digerakkan dari atas oleh para motivator dan
pembicara impor lewat konferensi-konferensi tiruan yang
diselenggarakan berdasarkan nama-nama besar dan tema-tema, sehingga
bila Allah memutuskan untuk mengulang lagi contoh-contoh yang
terjadi pada hari Pentakosta, yaitu ketika 120 orang Kristen di
Loteng Yerusalem tiba-tiba diperhadapkan dengan tantangan untuk
mengakomodasi 3.000 orang petobat baru dalam satu hari, mereka akan
siap, sebab struktur multiplikasi gereja rumah yang fleksibel akan
segera tersedia dan berjalan.

Pada banyak tempat di dunia, persekutuan-persekutuan pelayanan
rohani (pastoral) dan jaringan doa, baik lokal maupun regional mulai
bermunculan. Saya yakin, hal ini dapat menjadi awal bagi suatu
proses regional, suatu perhimpunan besar yang dipimpin oleh Roh,
yang terjadi secara intuitif dan perlahan dari orang-orang yang
memiliki roh yang sama, yang pertama-tama menciptakan hubungan-
hubungan yang sehat, lalu bergerak ke arah pembentukan identitas
rohani bersama (kolektif), sebuah bejana persatuan, yang di
dalamnya, pada suatu titik kairos tertentu dalam sejarah, dapat
ditempatkan suatu tantangan yang lebih besar: sebagai suatu kesatuan
untuk menerima tantangan untuk memuridkan kota atau wilayah kita –
bersama-sama!

Diedit dari sumber:
Judul Buku : Gereja Rumah yang Mengubah Dunia
Judul Bagian: Kelebihan Gereja Rumah Dibandingkan dengan
Gereja Tradisional
Penulis : Wolfgang Simson
Penerbit : Metanoia Publishing 2003
Halaman : 38 - 45